REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Pemberi layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus dan anak dengan kecerdasan istimewa diminta untuk
tidak gaptek alias gagap teknologi. Perkembangan era digital
dan derasnya arus teknologi informasi membuat penyelenggara pendidikan inklusif
ini untuk bisa mengikuti tren yang ada.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Univeristas Negeri Padang (FIP
UNP), Alwen Bentri, menyebutkan bahwa dampak nyata dari lompatan kemajuan di
bidang teknologi informasi ini telah memicu penyelenggara pendidikan inklusi
untuk berbenah diri. Menurutnya, pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan
khusus kini harus lebih banyak memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada.
Pendidikan inklusif yang selaras dengan era digitalisasi diharapkan mampu
membekali peserta didik berkebutuhan khusus dengan untuk bisa berinteraksi
dengan baik di tengah masyarakat.
“Isu teknologi informasi ini menjadi fokus kami di kalangan
pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif ini harus mengakomodir semu peserta
didik, sekaligus mengikuti perkembangan tekonologi,” kata Alwen
dalam Internasional Conference on Social Education and Soscial Inclusi
(ICSESI) bertajuk Improving Special Education Quality and
Social Inclusion At Digital Era, Selasa (11/9).
Sementara itu, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) FIP UNP
Marlina Muluk juga menambahkan, penyelenggara pendidikan bagi anak berkubutuhan
khusus perlu saling berbagai pengalaman dalam memberikan pendidikan inklusif
ini. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi perlu disikapi dengan bijak,
sekaligus mendorong pemberian pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus
tanpa kecuali.
“Kami melihat, mewadahi, dan menghimpun berbagai pemikiran
penyelenggara pendidikan inklusif perlu dilakukan untuk mengakomodasi semua
peserta didik tanpa terkecuali,” katanya.
Salah satu langkah yang dilakukan PLB FIP UNP adalah
menyelenggarakan konferensi internasional, yang menghadirkan pembicara dari
berbagai macam negara seperti (Assoc) Prof David Evans dari The University of
Sydney), Kanokporn Vibulpatanavong, Ph.D dari Srinakharinwirot University di
Thailand, (Assoc) Prof Mohd Hanafi, Ph.D dan Prof Dr Mega Iswari dari UNP.
Ketua pelaksana konferensi, Mega Iswari menyebutkan bahwa
sekolah-sekolah khusus membutuhkan uluran tangan dan konferensi ini diharapkan
menciptakan ide-ide baru yang bermanfaat bagi anak berkebutuhan khusus.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan ide-ide baru
bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Mega.
Bandung, CNN Indonesia
— Jumlah anak usia pendidikan dasar dan menengah yang tidak sekolah masih
tinggi di Indonesia. Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik pada
2016 menunjukkan, dari 4,6 juta anak yang tidak sekolah, satu juta di
antaranya adalah anak-anak berkebutuhan khusus.
Selama ini, penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau
anak dengan disabilitas lebih banyak dilakukan di satuan pendidikan khusus atau
Sekolah Luar Biasa (SLB). Padahal, tidak semua daerah di Indonesia memiliki
SLB.
Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, dari total 514
kabupaten/kota di Indonesia, 62 di antaranya tidak memiliki SLB. Jumlah 1,6
juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia pun baru 10 persen yang bersekolah
di SLB.
Project Manager
Yayasan Sayangi Tunas Cilik Wiwied Triesnadi mengatakan, ada beberapa penyebab
yang melatari persoalan itu. Sekitar 2.000 SLB yang ada di Indonesia, 75
persennya merupakan SLB swasta yang menarik biaya lebih mahal.
Selain itu, penyebaran SLB menurut dia juga sangat terbatas. Lokasi SLB pada
umumnya berada di daerah perkotaan. Hal ini berdampak pada akses pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus.
“Anak-anak yang kemampuan ekonomi keluarganya lemah terpaksa tidak
bersekolah karena faktor biaya dan jarak,” ujar Wiwied saat ditemui di
Bandung, Jawa Barat, Senin (28/8).
Dia berpendapat, salah
satu solusi meningkatkan angka partisipasi anak berkebutuhan khusus di dunia pendidikan
adalah menyelenggarakan sekolah inklusif.
Sekolah ini dianggap mampu mengakomodasi setiap anak dari beragam karakteristik
untuk berpartisipasi secara bermakna dan belajar bersama teman sebayanya di
satuan pendidikan reguler, bukan satuan pendidikan khusus seperti SLB.
Sekolah inklusif ini menerapkan metode pendidikan yang ditujukan untuk menjawab
kebutuhan belajar semua anak dengan fokus khusus yang rentan terhadap
marginalisasi dan pengucilan.
Pemerintah Indonesia, sejak awal tahun 2000 sebenarnya sudah mengembangkan
konsep pendidikan inklusif dengan mengikuti kecenderungan dunia dalam
mengadopsi konsep ini.
Program ini merupakan
kelanjutan dari program pendidikan integratif atau terpadu yang pernah
diluncurkan di Indonesia pada 1980-an, tetapi kemudian kurang berkembang.
Bentuk program pendidikan integratif saat itu adalah sekolah reguler yang
menampung anak berkebutuhan khusus, dengan kurikulum, guru, sarana
pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama dengan anak lain.
Banyak Sekolah Keberatan
Meski begitu, kata Wiwied, konsep pendidikan inklusif di Indonesia seringkali
masih dipahami sebatas pada pendidikan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus
semata.
Perkembangan pendidikan inklusif kurang menggembirakan karena banyak sekolah reguler
yang keberatan menerima anak berkebutuhan khusus. Pihaknya pun meminta
Kemendikbud merevisi Permen 70/2009.
“Kalau dulu sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah inklusif hanya satu per
satu kecamatan, sekarang kami dorong agar semua sekolah supaya penerapannya
bisa lebih baik lagi,” ucapnya.
Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif pun hanya
mengatur pendidikan inklusif bagi peserta didik dengan kelainan dan potensi
kecerdasan atau bakat istimewa.
Deskripsi peserta didik dengan kelainan menurut Permendiknas tersebut hanya
meliputi penderita tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa,
tunalaras, berkesulitan belajar, lamban belajar, autis, memiliki gangguan
motorik, menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif
lainnya, maupun tunaganda.
Wiwied menilai, hal ini cenderung membatasi pendidikan inklusif pada peserta
didik yang memiliki keterbatasan karena faktor internal saja. Sementara ada
pula peserta didik yang memiliki keterbatasan karena faktor eksternal.
Faktor eksternal
adalah sesuatu yang ada di luar diri anak yang mengakibatkan anak menjadi
terhambat proses perkembangan dan belajarnya. Mereka bisa berasal dari
anak-anak yang datang dari kelompok bahasa, etnis, atau budaya minoritas, yang
bekerja atau tinggal di jalan, hingga anak-anak yang terdampak oleh krisis,
konflik, dan bencana.
“Tantangan lainnya, para guru sering kali menganggap semua peserta didik
itu punya kemampuan yang sama. Tapi ia pribadi tidak pernah mendalami kebutuhan
belajar anak-anak,” kata Wiwied.
Salah satu contohnya, kata Wiwied, ada anak yang selama ini dianggap bodoh tapi
gurunya tidak mengetahui anak tersebut pengidap disleksia (gangguan dalam
perkembangan baca-tulis). Akhirnya anak itu sering mendapat hukuman. “Ini
suatu hal yang mengkhawatirkan,” katanya.
Perhatian pemerintah tertuju pada anak-anak yang memiliki keterbatasan secara
fisik, seperti mempunyai hambatan gerak, hambatan penglihatan, hambatan
pendengaran.
Sementara menurut Wiwied anak-anak disleksia, diskalkulia
(gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan memecahkan persoalan matematika),
hiperaktif belum jadi perhatian.
Laporan global yang diluncurkan Save The Children mengenai negara-negara
terbaik sebagai tempat tumbuh kembang anak pada 2017 menunjukkan, Indonesia
menempati posisi 101 dari 172 negara di dunia. Tertinggal jauh dari Singapura
di posisi 33 dan Malaysia di posisi 65, bahkan Thailand yang berada di posisi
84.
Setiap anak berkebutuhan memiliki
keberagaman dalam kemampuan baik dalam intelektual, fisik
maupun psikologisnya. Lantas hal tersebut tidak bisa dipukul rata atas dasar
kemampuan tersebut. Sekolah merupakan sarana interaksi berbagai arah untuk
meberikan fasilitas dan aksesibilitas yang memberikan upaya sadar dan terencana
untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan tujuan mempersiapkan generasi
bangsa. Dalam memberikan kebutuhan pendidikan bagi
siswa berkebutuhan khusus di Indonesia ini menyelenggarakan banyak cara, yang
paling sering di jumpai yaitu pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) dan
Sekolah Inklusi. Sekolah Luar Biasa adalah sistem penyelenggaraan pendidikan
khusus yang terpisah dengan anak umum lainnya dimana anak – anak berkebutuhan
khusus di tempatkan secara khusus sesuai dengan kebutuhannya. Dalam
penyelenggarannya SLB ini ada yang mengkhususkan khusus tuna netra, tuna rungu
maupun tuna daksa. Namun, karena semakin meluasnya dan terbuka sekolah reguler membuka
inklusi menjadikan sekolah luar biasa sekarang mendapatkan beragam siswa dengan
kemampuan beragam hal ini juga dikarenakan terkadang orang tua anak
berkebutuhan khusus tidak mau repot mencari sekolah yang jauh sehingga
dimasukkan ke sekolah terdekatnya, atau karena dalam kabupaten hanya ada
1 SLB sehingga sekolah dibebankan harus menerima dengan semua kategori
kebutuhan khusus. Kondisi tersebut sering di hadapi di sekolah luar biasa.
Keunggulan siswa
berkebutuhan khusus di SLB
Mendapatkan pelayanan khusus
yang sesuai dengan kemampuannya
Di kelas kemampuannya
disesuaikan dengan teman – temannya, hal ini memudahkan untuk memberikan
asesmen dan memberikan pelayanan
Orangtua lebih memahami
dan lebih ikhlas dalam mengasuh karena kondisinya di SLB beragamnya kondisi
sehingga menjadikan orang tua lebih termotivasi
Mendapatkan program
khusus yang sesuai dengan kemampuannya yang sudah di susun dalam kurikulum
Kekurangan dalam
penyelenggaraan di SLB
Siswa hanya mengenal
lingkungan yang sama dengan kondisinya, kurang meluas dalam interaksi dan
bermasyarakat
Terkadang karena
kekurangan guru, dalam satu kelas masih ada bermacam-macam kemampuan sehingga
siswa harus beradaptasi dengan semuanya
Kurangnya pemantauan
pemerintah dalam mengevaluasi hasil pembelajaran di sekolahan
Konsep pendidikan inklusi
muncul dimaksudkan untuk memberi solusi, adanya perlakuan diskriminatif dalam
layanan pendidikan terutama bagi anak-anak anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Pendidikan inklusi memiliki prinsip dasar
bahwa selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa
memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada
mereka. Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang menyertakan semua anak
secara bersama-sama dalam suatu iklim dan proses pembelajaran dengan layanan
pendidikan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa
membeda-bedakan anak yang berasal dari latar suku, kondisi sosial, kemampuan
ekonomi, politik, keluarga, bahasa, geografis (keterpencilan) tempat tinggal,
jenis kelamin, agama, dan perbedaan kondisi fisik atau mental.
Tidak semua kondisi siswa
berkebutuhan khusus mampu menjalani program di sekolah inklusi ini, sehingga
beberapa difabel yang
memungkinkan yaitu : tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, autis, slow learner,
hiperaktif.
Kelemahan dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusi
masih banyak sekolah
inklusi yang hanya sekedar menerima siswa berkebutuhan khusus tanpa memberikan
fasilitas sarana, prasarana dan mengakomodasi pembelajaran
masih banyak sekolah
inklusi yang membutuhkan guru pendamping khusus yang lulusan pendidikan luar
biasa namun realitasnya banyak diisi dengan lulusan di luar pendidikan luar
biasa
masih belum akuratnya
dalam adanya standarisasi dalam pengelolaan dan pembukaan pendidikan khusus di
sekolah reguler
masih banyaknya guru guru
di sekolah reguler yang belum memahami siswa berkebutuhan khusus dan pendidikan
inklusif
seringnya terjadi
ketumpang tindihan anatar guru, GPK dan orang tua siswa, disamping orang tua
terkadang memiliki harapan besar yang kurang sesuai, atau guru yang belum
memahami kondisi siswa
masih kurangnya
aksesibilitas dan sarana yang memadai bagi siswa berkebutuhan khusus seperti
tuna netra dan tuna daksa dalam mendapatkan aksesibilitas di sekolah
Saat libur
lebaran, banyak dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat untuk
bersilaturahmi dan berkumpul bersama rekan – rekan sejawat.
Bapak Wali
Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias
S.H memanfaatkan masa libur lebaran
dengan bersilahturahmi ke SLBN 1 Bukittinggi , pada Rabu (20/06/2019).
Bertempat di
Jln, Manggis Walikota di sambut Hangat oleh semua warga sekolah. Termasuk camat
ABTB Bapak Dadang Juga menyambut kedatangan Bapak Ramlan. Selain Silahturahmi
Bapak Ramlan Juga menyerahkan Bantuan Alat Praktek IT yang bisa di manfaatkan
untuk menunjang kegiatan pembelajaran baik Siswa maupun guru.
Bapak Wali
Kota Menyatakan mengatakan kunjungan yang dilakukan ini untuk mempererat tali
silaturahmi dengan teman – teman guru, siswa dan masyarakat yan ada di
kelurahan Manggis.
Siswa SLBN 1 Bukittinggi yang didampingi oleh guru dan Kepala sekolah Mengikuti JAMBORE Nasional yang dilaksanakan di Cibubur. Acara tersebut di hadiri oleh langsung oleh Bapak Presiden Bapak Joko Widodo. Acara tersebut dilaksanakan selama 7 hari mulai dari hari senin sampai hari selasa 6 Juni 2019
Ratusan warga SD dan SLBN Manggis Bukittinggi beserta wali
murid, Senin (2/10) menyambut meriah piala beserta penghargaan yang berhasil
diraih siswa sekolah tersebut dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional
(FLS2N) yang digelar di Padang pekan kemarin.
Piala, medali beserta penghargaan lainnya diserahkan secara
resmi usai upacara bendera di halaman sekolah tersebut oleh pengawas sekolah
Disdikbud Bukittinggi, Firdaus, SN yang didampingi Ketua YPI Al Azhar, Muhardi
Rajab kepada siswa berprestasi itu.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masing-masing
kepala sekolah Ibu Betrida, tim Desain Grafis Bukittinggi berhasil menjadi
juara 1 lomba FLS2N tingkat Propinsi cabang Desain Grafis dan berhak mewakili
Propinsi Sumatera Barat pada lomba tari tingkat international yang akan
diselenggarakan di New York, Amerika, pada Mei 2019 mendatang.
SLBN1 Bukittinggi. Berhasil meraih juara 3 lomba FIKSI yang di adakan di Pandapa Paramarta 30 Agustus 2019 s/d 3 September 2019. SLBN 1 Bukittinggi berhasil meraih Juara dari 3 cabang yang dilombakan yaitu Lomba Stand Kreatif dan Produk Unggulan. Keberhasilan ini tidka terlepas dari perjuangan dan pengorbanan Semua pihak. Terkhususnya warga SLBN 1 Bukittinggi yang selalu mensupport kami semua. Tim SLBN 1 Bukittinggi membawa nama Sumatera Barat diwakili oleh Kepala Sekolah Erma, S.Pd , 2 Orang guru yaitu Neli Yanti dan Taufik Satria Kemudian 2 Orang Siswa Unggul SLBN 1 Bukittinggi Yaitu Yusrizal Dan Rezi Dwi Putri.
SLBN 1 BUKITTINGGI ikut berpartisipasi dalam memeriahkan Ulang tahun SLB Al Ikhlas pada Senin, 29 April 2019 dengan mengikuti lomba mewarnai tingkat SDLB Se Kota Bukittinggi. Pada perayaan ini siswi SLB N 1 Bukittinggi Hepi Hendratozein siswi Tunarungu berhasil meraih juara 2 pada lomba tersebut, suskes Hepi diikuti temannya Shifa Deviandina yang mendapat juara 3 pada cabang lomba mewarnai tersebut. Sukses Siswi ini di dampingi oleh guru SLB N 1 Bukittinggi Ibu Neliyanti Dan Ibu Rini wahyuni.
SLBN 1 Bukittinggi, – Dinas pendidikan (Disdik) Sumbar keembali menggelar lomba
literasi SLB tingkat Provinsi Sumbar yang mulai dibuka sejak, Senin (8/4)
hingga tiga hari kedepan bertempat di Daima Hotel Padang.
Kabid
Pembinaan SLB (Sekolah Luar Biasa) Dinas Pendidikan Sumbar Irman, membuka lomba
Literasi SLB yang diikuti perwakilan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dari
masing-masing SLB di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Sumbar.
“Lomba
literasi SLB (SDLB, SMPLB, SMALB) bertujuan bagaimana membudayakan membaca bagi
anak-anak, yang kedua lomba ini merupakan salah satu ajang bagi anak-anak yang
lulus seleksi kab/kota untuk diikutkan di tingkat propinsi,” sebut Irman.
Ia
menambahkan, walaupun para anakberkebutuhan khusus tersebut memiliki hambatan,
tapi nereka memiliki kelebihan tersendiri yang patut diasah.
“Dibalik
hambatannya, disitulah kelebihannya. Karena guru-di sekolah telah melatih kita
jadikan ini ajang untuk menyalurkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki.
Semoga mereka percaya diri dan jadi yang terbaik di tingkat nasional dan
mudah-mudahan tahun ini bisa menambah pemenang, karena 2018, juara 3 nasional,
harapannya juara1 di tingkat nasional,” jelas nya.
Lomba
ini, sambung Irman merupakan bentuk perhatian dinas pendidikan dibawah
pemerintah provinsi Sumbar kepada ABK.
Lebih
lanjut kata dia, partisipasi masyarakat untuk anaknya mau dididik di SLB
sangatlah penting.
“Jika
masih ada rasa malu, kita terus mengimbau kepada orangtua yang memiliki ABK
agar anaknya dimasukkan ke SLB. Karena makin dini masuk SLB, makin bisa
mengatur dirinya sendiri,” pungkasnya.
Irman
menyebutkan, untuk autisme saat ini terdata 797 orang, dan yang terbanyak di
Kota Padang.
“Bentuk
perhatian disdik, untuk APBD ada dana BOS negeri dan swasta, BOP. dari APBN
juga BOP, juga bantuan untuk 145 sekolah SLB di Sumbar yang 29 diantaranya
merupaman SLB Negeri,” katanya.
Terpisah,
Devi guru pendamping salah seorang ABK beprestasi bernama Priyanka dari SLB
YPPLB Padang mengatakan sangat merespon positif Lomba Literasi SLB yang digelar
oleh Disdik Sumbar.
“Kami
sangat merespon positif kegiatan lomba ini, karena bisa mengasah kemampuan
anak-anak yang berasal dari SLB dari seluruh kab/kota di Sumbar dan dapat
menjadi ajang meningkatkan kepercayaan diri anak-anak bsrkebutuhan khusus
tersebut. Harapannya tetap terus diadakan,” tutupnya